KPI Dashboard

1-maintenance-connection-kpi-dashboard

Setelah pembahasan mengenai KPI khususnya maintenance dan contoh item-item yang dihitung dalam KPI saya akan sedikit overview mengenai KPI dashboard.

KPI Dashboard umumnya digunakan untuk memberikan pandangan sekilas untuk KPI (key performance indicator) yang relevan dengan tujuan dari proses yang dilaksanakan atau bisnis tertentu (misalnya penjualan, pemasaran, sumber daya manusia, produksi atau maintenance itu sendiri).

Seperti halnya dashboard pada kendaraan yang berbentuk gauge bisa memberikan informasi pada satu atau lebih proses sehingga menjadi panduan kita dalam mengemudi kendaraan.

Jadi dashboard KPI adalah sebuah tampilan yang menunjukkan indikator-indikator secara visual untuk menampilkan infomaasi KPI yang dibuat menjadi informasi data dan grafis yang lebih mudah dipahami. Continue reading

Plant Maintenance KPI’S (2) – Service Accuracy (SA)

Sebelumnya sudah dibahas pokok KPI Plant Maintenance yang terdiri dari item pokok:

  1. PA (Physical Avalaibility)
  2. MTBS (Mean Time Between stopages)
  3. MTTR (Mean Time To Repair)

Item KPI diatas merupakan indikator utama di departemen Plant. Namun item pokok diatas sekali lagi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya sebagai penunjang sehingga tujuan akhir dalam penyediaan sarana yang produktif bisa tercapai.

Masih banyak pekerjaan dalam aktivitas maintenance yang bisa diukur dan dibuat standar keberhasilannya dan menjadi indikator lain dalam proses pencapaian keberhasilan prosesnya.

Saya akan sampaikan beberapa indikator lain yang bisa diukur sebagai indikator pendukung agar indikator utama tercapai.

Service accuracy (SA),

SA ini lebih menekankan keberhasilan seorang planner dalam manage pelaksanaan Service periodic sebuat alat operasional meliputi penyesuaian jam operasional unit ke dalam ketepatan pelaksanaan service yang ditentukan, persiapan part serta sarananya dan manpower yang dibutuhkan. SA ini juga berfungsi untuk mengoptimalkan kemampuan fluida lubrikasi pada unit sampai pada batas optimum penggunaannya sehingga kondisi komponen juga lebih optimal bahkan sampai batas maksimal kemampuannya.

SA dihitung dalam prosentase keberhasilan dengan ketentuan umum adalah +- 25 jam dari jadwal yang ditentukan. Artinya ada toleransi setiap perencanaan jam service periodic sebanyak 50 jam. Bahkan dibeberapa lokasi umumnya yang merupakan remote area terpaksa membuat kebijakan toleransi +-50 jam (toleransi 100 jam). Perhitungannya adalah semua proses service periodic yang masuk toleransi pencapaiannya adalah 100% sedangkan untuk yang diluar pencapaian adalah 0%

Contohnya adalah (+- 25 jam) :

Unit A plan Service di HM 2500. Dilakukan pada HM 2480. Deviasi adalah -20 jam : 100%

Unit B plan service di HM 2500. Dilakukan pada HM 2510. Deviasi adalah 10 jam: 100%

Unit C plan service di HM 4000. Dilakukan pada HM 4040. Deviasi adalah 40 jam: 0%

Unit D plan service di HM 4000. Dilakukan pada HM 3500. Deviasi adalah -50 jam : 0%

Untuk kumulatifnya tinggal di rata-ratakan keseluruhan data service yang ada untuk mendapatkan persentase keseluruhan.

Berapa persen dikatakan service ini berhasil secara keseluruhan. Ini tentu akan dibuat indikator tersendiri dalam “RYD” (Red, Yellow, Green) indicator.Belum ada parameter khusus untuk digunakan namun dapat dipastikan semakin tinggi akurasi pastinya tingkat penyelesaian service periodic akan lebih optimal dan akan meningkatkan MTTR unit ujungnya PA juga terjaga.

Sebagai gambaran dalam menentukan keberhasilan total misalkan:

Pencapian >=90%: Green (Achieved)

Pencapaian 70-90% : Yellow (Average)

Pencapaian <70% : Red (Improve)

Dalam beberapa perusahaan SA dihitung ng dengan cara rencana JUMLAH unit yang direncakana service periodic bulan tertentu dibanding dengan jumlah unit yang dilakukan pada bulan tersebut. Perhitungan ini tidak akan pernah mendapatkan akurasi 100% dikarenakan utilisasi alat yang sangat fleksible banyak faktor yang memengaruhi cepat lambatnya utilisasi. Khususnya cuaca, unschedule breakdown, no operator dll.

Untuk pengukuran tersebut SA model ini lebih cocok ke dalam Service Achievement (pencapian service) dan tidak akan berdampak banyak pada performa pada unit. Karena tidak diketahui apakah pelaksanaannya tepat sesuai dengan yang direncanakan. Dikhawatirkan banyak service periodic yang dilakukan melebihi spesifikasi kemampuan fluida lubrikator yang digunakan.

Yang paling berperan dalam menentukan keberhasilannya adalah seorang maintenance planner atau yang ditunjuk dalam menjalankan manajeman Service periodic unit.

Salam. Dege

 

 

Yuk mengenal SOS (Schedule Oil Sampling)

Yang sudah jadi karyawan perusahaan pastinya sudah pernah kan melakukan medical check up. Ya itu selain persyaratan untuk lolos tidaknya dalam sebuah uji kelayakan kita pada suatu pekerjaan juga sekaligus cara gratis untuk mengetahui kondisi kesehatan kita. Atau juga orang yang sakit untuk menganalisa sakit juga diperlukan pengambilan sample dari dalam tubuh kita. Salah satu cara yang digunakan adalah menganalisis darah dan air seni yang merupakan cairan yang ada di dalam tubuh kita. Dari hasil analisa cairan tersebut dokter bisa menganalisis kemudian mengetahui penyakit yang diidap dan dapat memberikan perlakuan dan resep yang sesuai. Orang yang melakukan medical check up secara rutin akan dapat diketahui gejala penyakit sebelum penyakit tersebut parah sehingga proses ini merupakan proses preventive agar kondisi tubuh tetap sehat.

Nah gambaran di atas untuk menggambarkan apakah sebenarnya proses Schedule Oil Sampling (S.O.S) dalam bidang maintenance/ perawatan alat. Proses SOS tidak lepas dari analisa cairan dalam sebuah unit yang bisa digambarkan dari darah dalam tubuh manusia tersebut (walaupun secara fungsi cairan ini hanya berfungsi sebagai lubricator) namun bisa memberikan informasi mengenai keadaan unit tersebut pada bagian-bagian tertentu. Secara pengertian SOS merupakan proses yang didesain untuk mengubah data analisa cairan menjadi informasi yang berguna. Informasi ini digunakan untuk mengelola peralatan/unit, meningkatkan avaibility, serta menurunkan biaya operasi. Continue reading

Plant Maintenance KPI’s

“Babak belur tiap hari kerja baikin mesin…. hasil gini-gini aja…. mending nyantai aja”….. Mungkin ini sering kita dengar setiap hari ketika kita bercakap-cakap dengan seorang mekanik di lapangan dan memang harus dimaklumi memang karena orang lapangan cenderung menggunakan tenaga dalam bekerja berbeda dengan yang bergerak di bidang strategy maintenance-nya.

Hal ini akan bisa semakin tidak terkendali kalau pekerjaan maintenance unit itu tidak menggunakan atau membuat perencanaan yang baik dan terkendali yang berorientasi dengan target-target yang ditentukan. Dengan praktek tanpa perencanaa yan baik pekerjaan jadi tidak terarah hanya fokus pada pekerjaan yang bersifat breakdown repair saja yang akan menyebabkan pekerjaan jadi tidak terfokus dan akan menguras sumber daya yang lebih dan yang tidak terduga.

Apa sih sebenarnya yang dijual oleh “bengkel” ke klien tidak lain adalah menyediakan unit atau peralatan dengan kondisi bagus dan selalu siap (reliable) ketika akan digunakan. Dalam proses menyiapkan unit yang handal dan selalu siap ketika dibutuhkan juga akan dibutuhkan waktu sebagian dari ketersediaan alat untuk proses maintenance itu. Namun perlu diingat perlu ada batasan-batasan sehingga proses maintenance tetap terkendali menyesuaikan berapa persen alat itu dibutuhkan sesuai dengan target unit itu akan digunakan atau seberapa banyak produksi yang akan dihasilkan oleh unit tersebut. Istilah yang sering digunakan adalah KPI atau Key Performance Indicators yang akan digunakan sebagai batasan atau puntarget yang perlu dicapai. Continue reading

Shutdown plan

Saya nggak tau ada istilah lain apa nggak dari judul di atas untuk membuat urutan langkah kerja dalam pemberhentian unit dalam rangka preventif  maintenance baik untuk service atau penggantian komponen utama. Tujuan pembuatan langkah kerja ini sebagai guideline eksekutor dalam menjalankan pekerjaan tersebut secara berurutan dan teratur mulai task, durasi yang diperlukan dan target penyelesaian.

Berdasarkan pengalaman penulis tahapan pembuatan shutdown planning adalah :

  1. Membuat perencanaan waktu akan dilaksanakan pekerjaan tersebut. Untuk ini berdasarkan umur baik service atau umur komponen yang ditetapkan. Misal penggantian engine per 15000  jam unit bergerak bisa mulai direncanakan ketika umur komponen sudah mencapai 90% umur komponen tersebut.
  2. Komponen dan part harus sudah diorder minimal 3 minggu sebelum komponen masuk due dan mendapatkan kepastian part akan komplit disupplai minimal seminggu sebelum masuk waktu penggantian
  3. Membuat perencanaan (shutdown plan) yang dituangkan dalam daftar urutan pekerjaan bisa menggunakan Ms. Project (Ms. Office/ Planner (linux). Yang didalamnya bisa berupa jenis task, no pekerjaan (WO), status komponen, durasi pekerjaan, tanggal start dll. Sedangkan pekerjaan sendiri akan dibagi dalam beberapa step pekerjaan mulai pekerjaan persiapan (termasuk safety prosedur), pelaksanaan dan finishing pekerjaan (Silahkan dijabarkan sendiri) termasuk alokasi manpower yang digunakan.
  4. Monitoring pelaksanaan pekerjaan tersebut dengan membuat persentase pekerjaan setiap hari.
  5. Setelah pekerjaan selesai review semua pekerjaan dan memastikan semua task bisa dikerjakan dan apabila ada yang tidak bisa dikerjakan dan aman untuk dioperasikan membuat jadwal ulang untuk pekerjaan tersebut.

Silahkan dikembangkan sesuai kebutuhan yang diperlukan dan kemampuan eksekutor dalam menjalankan pekerjaan tersebut. Catatan paling penting adalah HARUS disepakati sebelumnya tentang total durasi tersebut antara planner dan eksekutor sehingga waktunya bisa realistis bagi eksekutor dan efektif bagi planner.

(CIM) Continues Improvement Management Product

Minggu lalu tiba-tiba di panggil atasan, kirain ada masalah dengan pekerjaan tapi malah sebaliknya akan dilibatkan dalam proses CIM (Continues Improvement Management) yang dijalankan langsung oleh yang punya produk (Trakindo). Dalam hal ini saya dilibatkan untuk pengumpulan data untuk satu buah tipe unit (Grader CAT) dengan mengumpulkan data PM Service complete time dan first stopages setelah unit itu di service. Coba-coba googling mengenai CIM product memang banyak tapi untuk product heavy equipment masih belum menemukan. Continue reading

Defect Management

Hai… ketemu lagi sudah beberapa bulan gak posting soalnya sedang sibuk jadi Ayah dengan momongan baru.

Untuk kali ini sebenarnya bingung mau posting apa soalnya terlalu banyak yang ada di kepala ini untuk disalurkan di blog ini baik masalah menjadi ayah, pengguna Linux, atau seputaran meintanance planning. Tapi karena yang ingin dituangkan mengenai planning maka kali ini saya ingin bertukar pendapat dengan para pembaca sekalian mengenai Defect Management.

Defect Management atau kalau diistilahkan ke bahasa kita adalah manajemen kerusakan mulai dari capture data kerusakan, analisis, respon, waktu dan  tindakan yang akan diambil terhadap kerusakan yang ditemukan pada sebuah alat yang digunakan. Mengapa ini penting karena dengan melaksanakan ini kerusakan akan dapat diketahui sedini mungkin dan diharapkan produktivitas alat pun juga akan meningkat  pula. Continue reading