Plant Maintenance KPI’s

“Babak belur tiap hari kerja baikin mesin…. hasil gini-gini aja…. mending nyantai aja”….. Mungkin ini sering kita dengar setiap hari ketika kita bercakap-cakap dengan seorang mekanik di lapangan dan memang harus dimaklumi memang karena orang lapangan cenderung menggunakan tenaga dalam bekerja berbeda dengan yang bergerak di bidang strategy maintenance-nya.

Hal ini akan bisa semakin tidak terkendali kalau pekerjaan maintenance unit itu tidak menggunakan atau membuat perencanaan yang baik dan terkendali yang berorientasi dengan target-target yang ditentukan. Dengan praktek tanpa perencanaa yan baik pekerjaan jadi tidak terarah hanya fokus pada pekerjaan yang bersifat breakdown repair saja yang akan menyebabkan pekerjaan jadi tidak terfokus dan akan menguras sumber daya yang lebih dan yang tidak terduga.

Apa sih sebenarnya yang dijual oleh “bengkel” ke klien tidak lain adalah menyediakan unit atau peralatan dengan kondisi bagus dan selalu siap (reliable) ketika akan digunakan. Dalam proses menyiapkan unit yang handal dan selalu siap ketika dibutuhkan juga akan dibutuhkan waktu sebagian dari ketersediaan alat untuk proses maintenance itu. Namun perlu diingat perlu ada batasan-batasan sehingga proses maintenance tetap terkendali menyesuaikan berapa persen alat itu dibutuhkan sesuai dengan target unit itu akan digunakan atau seberapa banyak produksi yang akan dihasilkan oleh unit tersebut. Istilah yang sering digunakan adalah KPI atau Key Performance Indicators yang akan digunakan sebagai batasan atau puntarget yang perlu dicapai.

Ketersediaan unit secara fisik untuk digunakan dikenal dengan istilah Physical Availability (PA) dengan pengertian berapa persentase unit itu tersedia untuk digunakan tanpa terganggu oleh kerusakan atau perbaikan secara terencana (Schedule) maupun tidak terencana. Kerusakan di dalamnya juga bisa termasuk kerusakan yang non technical seperti misalnya unit rusak dikarenakan terjadinya accident ini akan mempengaruhi ketersediaan secara fisik. Lho…. itu kan bukan pengaruh maintenance unit rusak tapi kesalahan operasional.. ok..ok…  untuk itu maka akan diukur juga ketersediaan unit secara mekanikal atau dikenal Mechanical Availabilty (MA). MA ini hanya akan menghitung ketersediaan unit yang di pengaruhi oleh kerusakan atau perbaikan secara technical. Terus mana yang digunakan PA/MA??? ya terserah yang rental “bengkel” mau pilih PA atau MA tapi kalau sudah orientasinya unit itu digunakan untuk produktivitas tentunya akan tetap menggunakan PA sebagai indicator-nya. Beda untuk konsumsi “bengkel” itu sendiri maka MA akan lebih sesuai digunakan sebagai indikator keberhasilan maintenance.

Untuk penghitungan sederhananya adalah 

PA%=(Total penggunaan jam unit – Total jam kerusakan/ Total penggunaan jam unit) x100

Misal : Unit kendaraan tambang total jam digunakan dalam beroperasi adalah 24 jam (di dalamnya bisa jam unit digunakan bekerja, travel, parkir, rusak / breakdown) dan dalam kurun waktu 24 jam tersebut ada 2 jam unit tersebut rusak maka:

PA %= ((24-2)/24) x100 

PA %= (22/24) x100

PA% = 91.6

Terus standarnya berapa untuk PA tersebut… Variance.. ini bisa dipengaruhi oleh umur unit dan atau target produksi yang akan dihasilkan oleh unit tersebut sendiri (Akan dibahas terpisah kalau sudah jadi manager😀..) namun untuk unit yang baru rata-rata 90% ke atas.

By the way..anyway.. busway… PA & MA hanyalah sebagai hasil akhir saja sebenarnya karena sebelum tercapai angka persentase tersebut. Faktor penentunya adalah ada beberapa item namun pokoknya adalah seberapa cepat kita melakukan maintenance / perbaikan dan seberapa lama ketahanan unit tersebut digunakan. Semakin cepat pekerjaan digunakan maka keterediaan unit akan juga bertambah ini dikenal dengan istilah MTTR (Mean Time To Repair). untuk mengukur ketahanan unit dikenal dengan istilah MTBS (Mean Time Between Stoppages)

MTTR diartikan berapa lama sih rata-rata unit itu diperbaiki, perhitungannya :

MTTR (jam)= Total jam breakdown schedule & unschedule / total pemberhentian dikarenakan rusak schedule & unschedule

Misal : Unit rusak selam 100 jam dalam sebulan, total berapa kali unit rusak adalah 10 kali maka dihitung 

MTTR (jam)=100/10

MTTR (jam)=10 jam

Standarnya berapa ya???? variance juga tergantung kebijakan “bengkel” namun sebagai benchmark dari vendor umumnya 8-10 jam bahkan ada yang mengunakan 6 jam dan bahkan ada yang sampai 12 jam.

MTBS juga akan berpengaruh terhadap PA/MA. Semakin unit jarang stop maka ketersediaan alat juga akan semakin tinggi. Penghitungannya dengan membagi total jam beroperasi dibagi total berapa banyak unit itu parkir rusak dikarenakan schedule maupun tidak. Rumus sederhananya 

MTBS (jam) = Total jam unit beroperasi / Total pemberhentian schedule & unschedule

Misal total jam unit beroperasi 1 bulan adalah 300 jam dengan 10 kali rusak maka :

MTBS (jam) =300/10

MTBS (jam) =30 jam

Targetnya “piro”? lha wani piro?…. variance lagi namun benchmark vendor unit berkisar diangka 80-100 jam. Namun ada juga yang menggunakan standard di bawah range tersebut.

Masih ada banyak lagi indikator-indikator keberhasilan maintenance selain disebutkan 3 diatas yang mengarah pada proses demi prosesnya dan sekali lagi PA/MA hanyalah hasil akhir dari berbagai proses strategy maintenance yang digunakan. Misalnya:

  • MTFS (Mean Time First Stoppages)
  • MTBF (Mean Time Between Failure)
  • SM (Schedule Maintenance)
  • SA (Service Accuracy)
  • etc

Demikian sedikit mudahan bermanfaat buat para “Bengkeler’s” sekalian… tetap utamakan safety ya dalam bekerja..

20 thoughts on “Plant Maintenance KPI’s

    • MTBF hanya menghitung waktu rata-rata sampai unit berhenti dikarenakan Failure (unschedule breakdown)
      Sedangkan MTBS menghitung rata-rata operasi sampai unit berhenti dikarenakan schedule maupun unschedule.
      MTBS sekarang dominan dipakai karena juga untuk mengatur pola breakdown schedule, diharapkan dapat diminimalkan semua penghentian unit untuk maintenance dan maksimal dalam perbaikannya.
      Misal ketika breakdown unschedule terjadi dan memerlukan waktu agak lama atau lama bisa di opportune-kan pekerjaan schedule yang sudah mendekati sekalian juga sebaliknya ketika breakdown schedule di harapkan backlog yang berpotensi breakdown bisa juga di eksekusi.

  1. Nice info gan…..
    Ngomong-ngomong sangatta dimana soalnya aye pecinta ubuntu juga…..salam kenal dari apt. Pranoto sangatta

    • @Rahmat Hidayat.. untuk istilah PR, PR, WO bisa jadi berbeda antara perusahaan namun eksistensinya sebenarnya sama.
      WO (Work Order) sebagai pintu utama merupakan penomoran / peng-identitasan sebuah pekerjaan baik itu memerlukan barang atau hanya jasa dan ini kalau di maintenance merupakan ranah utama Plant untuk mengelola WO karena ini juga bisa digunakan sebagai data backlog juga nantinya juga sebagai bahan history maintenance. Kalau WO memerlukan part/ jasa diluar maka akan diteruskan ke PR (Purchase Request) / RO (Request order) dll sampai pada PO (Purchase Order)/OP. Untuk PR&PO ini umumnya merupakan ranah team Logistik/procurement/Purchasing dalam pengadaan barang atau jasa.

  2. Bro, mau tanya kalau unit tidak bisa digunakan kerena tidak ada operator itu masuknya ke break down atau standby yaa?
    Terus kalau unit bisa digunakan (operator ada), semua lengkap namun user di lapangan yang jarang menggunakan karena faktor lain masuknya dimana ya?

    Tahnks in advance.

    • Sorry baru reply… untuk fast respon bisa inbox FB yach..
      Unit RUSAK tidak ada operator = Breakdown
      Unit TIDAK RUSAK tidak ada operator = Standby
      Unit TIDAK RUSAK ADA OPERATOR tidak digunakan = Standby
      Yang remang-remang mungkin defect minor yang mengarah pada behaviour operator, satu ndak masalah satu jadi masalah misal operator sea operator pertama gak masalah yaa keras-keras dikit tapi satunyanya ndak mau operasikan alasannya gak nyaman. Nah ini perlu didiskusikan apakah “gak Nyaman” ini merupakan masalah teknis atau “feel” saja. Di dunia teknis gak ada kira-kira semua ada standarnya baik itu kualitatif maupun kuantitatif. Kalau memang secara teknis operator seat tidak ada masalah misal adjustable, busa bagus berarti harusnya tidak breakdown namun kalau ternyata diluar spec yang diharapkan mau-gak mau ini jadi responsible maintenance untuk perbaikan dan menjadi breakdown jadinya.
      Ada ilmu lain buat maintenance adalah social approach (Hahahaha…) “pake-pake dululaah…” demi PRODUKSI…

  3. Hmmmmm….
    Pak bos Gatot , mau nanya apakah kpi bisa dinego untuk mencapai target..
    Misal, unit sdah terecord breakdown unschedule dgn durasi yg lama dapat langsung dirubah menjadi breakdown schedule dikarenakan sudah adanya planning service, backlog or inspection tentunya hal tsb dapat dilakukam bersamaan untuk meminimalkan unit berhenti kembali.
    Pertanyaan saya bagaimana dengan record data SAP???

    • Mas bro… mungkin sudah familiar dengan ungkapan TRASH IN = TRASH OUT dalam pengelolaan data..
      Artinya apa kalau data yang digunakan ngawur ya hasil dan rekomendasinya juga ngawur.. nggak akan ada perbaikan yang real dan selanjutnya akan menciptakan kengawuran-kengawuran lainnya. Ini kalau memang mau bener-bener improvement. SAP hanya sebuah media saja yang mestinya digunakan sebagaimana mestinya bukan sebagaimana maunya.. It depend to ur boss bro.. tapi inti berpikirnya harus bener yoch.. hehehe

  4. selamat sore pak, mohon saya diberi sedikit penjelasan tentang SM dan SA pak, bagaimana perhitungannya. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s