Welcome Ramadhan…

marhaban.jpg

Beberapa hari lagi Ramadhan telah tiba.. Ya..subhanallah Ramadhan lagi, begitu cepat waktu berlalu dan Allah akan memberi kita kesempatan untuk membersihkan diri lagi. Walaupn masih sekitar 2 minggu lagi budaya menghadapi bulan suci sudah dimulai.

Yang paling ngerasa sih istri tercinta sudah mulai mengeluh harga bahan pokok perlahan mulai “BOOM” naik, tetangga pada memborong minyak tanah sampai berjerigen-jerigen, kalau ditanya jawabnya untuk persiapan puasa. Waduh memang puasa mau konsumsi minyak tanah seberaa banyak. Semalam waktu lewat gang rumah… Duarrrr!!!!!!!! suara mercon meledak… razia kalah cepat lagi sama pedagang petasan.

Okelah.. mungkin itu semua sudah jadi budaya dan kita akan susah sekali mengubah sebuah budaya, seandainya kita semua benar-benar memahami makna tetang Ramadhan mungkin itu semua gak harus terjadi. Artinya bersikap biasa saja ketika menghadapi Ramadhan dalam hal kebutuhan sehari-hari, tetapi dalam hal ibadah kita jadikan Ruarrr Biasa….

Menggerutu menghadapi kondisi perekonomian menjelang ramadhan mungkin juga akan mengurangi kekhusyu’an menjalankan ibadah. Mari bersama-sama kita semua membersihkan hati dan fikiran dalam menjelang bulan suci nanti. Ringankan tangan untuk membantu saudara yang membutuhkan dan tentunya bisa mengimplementasikan selamanya tanpa harus di dalam bulan Ramadhan.

Oh ya, kita sama-sama berdoa agar para ulama dalam menentukan 1 Ramadhan bisa maksimal dan menghasilkan informasi yang benar dan tentunya bisa satu pandangan. Terserah akan ikut golongan mana bila perbedaan 1 Ramadhan terjadi lagi, yang penting umat Islam bisa terus bersatu. Berikut saya kutip dari antara bahwa menkominfo akan memfasilitasi dalam penentuan 1 Ramadhan.

“Surabaya (ANTARA News) – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Prof DR Ir Mohammad Nuh DEA, siap memfasilitasi kaum muslimin di Indonesia dalam menentukan awal dan akhir puasa Ramadhan dengan memanfaatkan produk berbasis Teknologi Informasi (TI).

“Kami akan memanfaatkan teropong bintang di Boscha, Bandung, untuk melihat hilal (bulan sabit), kemudian datanya dikirim ke kantor saya dan direlai televisi,” katanya usai meresmikan perubahan laman/website Pemkab Probolinggo, Minggu malam, sebagaimana rilis dari staf khusus Menkominfo kepada ANTARA Surabaya, Senin.

Dalam peresmian perubahan nama lama Pemkab Probolinggo dari http://www.kabprobolinggo.go.id menjadi http://www.probolinggokab.go.id sekaligus peringatan Isra` Mi`raj itu, mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya tersebut mengatakan bahwa muncul dan tenggelamnya rembulan merupakan gejala alam (sunatullah).

“Itu sama dengan gejala air yang mendidih jika dipanasi dengan suhu 100 derajat Celcius. Ya, kita pasang teropong, yang mana itu hilal. Kita dulu dibohongi terus karena tidak pernah tahu sendiri hilal itu seperti apa. Saya pikir boleh pakai teropong, seperti kalau kita pakai kacamata, hanya saja kacamata yang dipanjangkan,” katanya.

Ia mengaku, prihatin menyaksikan kaum muslimin di Indonesia yang terpecah menjadi tiga kelompok saat menentukan awal-akhir Ramadhan, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dengan rukyatul hilalnya, Muhammadiyah dengan hisabnya, dan Hizbut Tahrir dengan rukyat internasionalnya.

“Itu `kan sebenarnya perkara teknis, tapi begitu ditarik ke masalah syar`i (hukum agama) ya tentu saja bisa berimplikasi syar`i. Kalau hari raya beda sehari kok masih mungkin, tapi kalau sampai dua hari `kan aneh,” kata mantan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Jawa Timur tersebut.

Namun, katanya, upaya kementerian yang dipimpinnya dalam penentuan awal-akhir Ramadhan hanya sebatas membantu Departemen Agama (Depag) RI. “Yang punya kewenangan penentuan awal-akhir Ramadhan, termasuk juga haji adalah Depag. Kami hanya membantu melalui TI,” katanya.

Ia menilai, rasanya aneh kalau umat Islam yang jumlahnya sekitar 200 juta jiwa tidak bisa melihat bulan, apalagi di era TI seperti sekarang.

“Kebetulan 27 Agustus mendatang ada gerhana bulan, nanti teropong di Boscha akan kita uji coba untuk mengamati bulan dari detik ke detik, kita tampilkan di televisi. Rukyat `kan seperti itu juga,” katanya.

Bila masyarakat menyaksikan muncul-tenggelamnya bulan secara TI, katanya, tidak perlu lagi “gontok-gontokan” (perbedaan secara tajam), karena tinggal melihat di televisi, maka akan dapat diketahui, apakah hilal sudah muncul atau belum, katanya menambahkan.

Kita berharap peran serta pemerintah dapat juga menyatukan pandangan para ulama kita, didukungnya teknologi dalam penentuan 1 Ramadhan hendaknya membuka kacamata kita kaum muslimin seluruhnya bahwa Islam juga menjunjung tinggi Ilmu pengetahuan, bukankah kita memang harus menuntut ilmu bahkan sampai liang lahat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s